Sabtu, 31 Desember 2011

Yacob Sang Hamba Tuhan


Empat puluh kilometer aku duduk dibelakangnya, mendengar ia berkisah. Perjalanan sejauh itu tak terasa, jika aku membentangkan pita kaset yang panjangnya 2400 kaki entah sudah berapa kaset yang kuulur dijalan yang kami lewati.*

Satu setengah jam sebelumnya, saat gelap tak lama lagi mengetuk pintu, saya masih duduk menunggu. Tiga jam telah berlalu sementara tak satu pun angkot yang ku tunggu singgah. Memang saya tak menahan yang lewat, telah kupercayakan semuanya kepada para aheng, wajah-wajah mereka dilengketi debu bercampur keringat yang mengering. Mereka adalah bangsaku meski saya lebih pandai dalam menyulap dan memoles diri, berbaur dan mengabur. Ketika kupikir kembali, sepertinya saya lebih cocok dengan istilah bohemian dalam pengertian klasik, tak punya kerja tetap, tak punya tempat tinggal menetap, hanya menggelandang dari satu tempat ke tempat yang lain. Meski demikian aku punya rumah yang demikian luas dan setiap saat aku dengan gampang dapat kembali, salah satunya di jalan, dipinggirnya tempat biasa aku duduk menunggu atau lebih sering berdiri sambil memandang mesin-mesin beroda yang menyambarkan panasnya diwajahku. dan tak ada alasan untuk tidak berbahagia.

Selain para aheng ini juga terdapat para pengojek dan penarik becak bermotor, mereka juga adalah bagian dari kelas sosial yang sama. Kami saling bertegur sapa, bertanya tempat tinggal tanpa menanya nama.

Masih tak ada tanda-tanda, kecuali hari sebentar lagi akan gelap dan saya masih memasrahkan keberangkatan pada kebaikan mereka. Ini kode kelas sosialku, bukan tindakan terpuji memotong rejeki yang lain, meski aturan tak tertulis ini tak selamanya dipatuhi. Lagian saya sudah membiasakan diri pada situasi seperti ini, saya sangat yakin di setiap perjalanan akan selalu ada tangan-tangan gaib.

Kali ini tangan-tangan gaib itu kembali menunjukkan belas kasihnya lewat seorang tukang ojek, Mungkin kasihan melihatku, ia bertanya tujuanku dan menawarkan kebaikannya. Setelah ia memutus harga sebesar 15 ribu, saya tak lagi menawar. Harga ini terlalu murah untuk jarak 30 kilometer, padahal ia bisa saja memasang tarif tinggi. Kebaikan tak mengenal hukum ekonomi itu yang kusimpulkan. Tapi tak apalah, ada banyak hal yang bisa merubah kesepakatan. Aku hanya bersyukur dan meyakini bapak yang menawarkan tumpangannya ini adalah utusan Tuhan bagi para musafir.

0 komentar:

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates