Ia melangkah pergi meninggalkan secangkir kopi hangat, masih tersisa setengah, dan tapak-tapak sepatunya yang mengetuk ubin-ubin berwarna coklat tak terdengar sama sekali, nyanyi lelaki tua itu merebut suaranya. Hari itu senja menjadi muram hingga berbulan-bulan kemudian, merindu sebagaimana bangku tempat ia duduk menghadap jendela dan menembuskan pandangannya melalui kaca-kacanya yang selalu pucat berembun di saat hujan yang membuat jalan-jalan menjadi cermin bagi gedung-gedung yang angkuh berwarna kusam dan pejalan kaki yang melaju cepat dalam kegamangan di hati dan kepala mereka.

0 komentar:
Posting Komentar