Jumat, 15 Juli 2011

Saat Pesta ke Tiga Berakhir

Malam ini adalah pesta ke tiga di bulan ini yang ia akan datangi dan seperti tamu-tamu lainnya ia merias dirinya sejak di rumah, mesti ia menganggap si pembuat pesta kali ini sama sekali tak penting. Tapi bagaimanapun ia harus datang, ia telah memesan jauh-jauh hari perhiasan di salah satu tokoh perhiasan yang paling ternama di kota ini. Sementara itu suaminya seorang yang berpenghasilan cukup tinggi dalam sebulan sedang berada di kamar mandi, seperti dirinya ia akan datang ke pesta ini. Tak seperti ia, suaminya menganggap si pembuat pesta ini amat penting bagi karirnya nanti.

Ia sedang duduk di bangku tanpa sandaran, di depan meja rias, memakai bedak, sambil sekali-kali memandang anting, kalung dan juga cincin dengan mata berlian, hingga tak sadar seseorang dalam cermin yang ukurannya seperti jendela sedang memandangnya. Di dalam kamar mandi suara air jatuh dari sower sudah berhenti, suaminya kini berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk putih bersih menutupi tubuhnya dari pusar hingga lutut, memperlihatkan perutnya yang membuncit jatuh. Setengah jam sebelumnya ia menggenggam pisau cukur yang kini tergeletak di wastafel dengan potongan bulu-bulu yang belum dibersihkan. 

Istrinya masih di depan meja rias, riasannya hampir selesai. Ia sendiri telah berbusana lengkap, jas yang dipesan khusus untuk pesta malam ini, celana panjang dari bahan terpilih dan sepatu kulit impor yang kesemuanya berwarna hitam. Mereka tak saling bercakap, sibuk di depan cermin mengagumi dandanan masing-masing, memeriksa sedetail mungkin hingga tak ada yang terlewatkan. Kemudian mereka saling memandang dengan kepuasan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka.  
     
Di jok depan mobil pribadi yang belum lunas ia masih memandang cincin di jarinya, pandangan ini seperti sebelum-belumnya, selalu menghanyutkannya. Suaminya telah duduk disebelahnya, menutup pintu. Malam ini sang raja telah mengundang, suatu kehormatan khusus, dan para tamu harus tahu diri.

                                                                 *******     
                                                                 
Di suatu pagi, dua hari setelah pesta malam itu, tepat pukul 10 handphone-nya berdering. Ia malas mengangkat setelah melihat nama sang penelepon. Hingga akhirnya di deringan yang ke lima pada pukul sebelas lewat sepuluh, ia memaksakan diri mengangkatnya. “Selamat siang bu, maaf, saya sudah menelepon ibu sejak sejam tadi,” suara seorang perempuan yang demikian dikenalnya. “Oh iya, saya juga minta maaf, barusan habis belanja, handphone saya ketinggalan di mobil,” ia menjawab tanpa tersendat sama sekali, seperti biasa ia punya banyak jawaban. “Begini bu, batas waktu pinjaman barangnya sudah berakhir hari ini,” belum selesai suara itu ia memotong, “iya, saya tahu kok, tunggu sejam kedepan saya akan ke situ,”  perempuan di seberang menutup telepon, sangat tahu diri ketika para pelanggannya sudah terdesak.  
      
Di perjalanan, saat traffic light berwarna merah, saat seorang anak dengan tangan kanan menengadah menggedor-gedor kaca jendela raiben, ia memandang anting, kalung dan cincin bermata berlian dalam kotak yang dengan sengaja dibiarkan terbuka, tergeletak di jok sebelahnya, ada sedih seolah tak mampu memisah dari benda-benda itu. Ia lalu mengangkat telepon, menekan tombol panggilan "Pa, kartu kreditku sudah diblokir."   

0 komentar:

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates