Rabu, 13 Juli 2011

Pagar-pagar yang Menjerit

Ia selalu tahu ketika seseorang datang atau pergi karena pagarnya maupun milik tetangganya selalu menjerit keras ketika dibuka atau pun ditutup. Jeritan-jeritan itu mulai mengganggunya, semakin lama ia semakin tak tenang, namun ia tak pernah punya keberanian untuk mengatakan hal tersebut kepada tetangganya yang lain. Ia terlalu takut bahkan untuk menatap wajah mereka. Pagar itu lebih banyak berbicara dan memiliki keberanian dibanding ia dan para tetangganya. 

Pagar-pagar itu mungkin sekali-kali harus diberi pelumas demikian pikirnya saat di suatu malam mimpi indahnya terusik oleh jeritan-jeritan yang menusuk gendang-gendang telinga hingga hampir saja membuatnya gila. Namun pikiran itu menguap ketika di siang hari panas yang menghantam batok kepalanya seperti air yang jatuh di wajan yang ia letakkan diatas kompor dengan api yang membiru. Ia seperti biasa adalah pelupa kelas wahid, terhadap tetangganya pun ia sama sekali tak mengenali wajah-wajah mereka, tentang kejahatannya ini para tetangganya tak mengetahui sama sekali. 

Ada suatu waktu ketika jeritan pagar-pagar itu tak terdengar, saat tanggal lagi memerah, entah karena hari minggu maupun hari raya seperti Idul Fitri. Pada hari libur, ia dan juga para tetangganya menghabiskan waktu di luar kota atau tempat perbelanjaan sekedar makan, berkumpul dan bergosip, atau arisan, tak jarang sebagian dari mereka melancong hingga ke luar negeri dengan beragam alasan mulai dari menonton konser ataupun rekreasi. Kemudian kembali bersama galeri foto-foto lokasi yang mereka kunjungi di jejaring-jejaring sosial online.

Disamping tempat tinggalnya juga hidup tetangga-tetangga yang lain, mereka hidup tanpa pagar sama sekali, kecuali kepungan pagar-pagar tetangga kompleks mereka yang sedikit lagi tak memberi mereka jalan untuk keluar. Alih-alih ia mengenali mereka, sekali lagi ia pelupa kelas wahid, saking pelupanya sampai ia tak mengetahui bahwa dirinya adalah pelupa. Ini adalah kejahatannya yang lainnya dan para tetangganya juga tak mengetahuinya sama sekali. Kecuali pagar-pagar itu, mereka selalu tahu dalam jerit yang ramai, keras dan tajam hingga menusuk telinga-telinga. Ia dan para tetangganya sama sekali tak mengetahui maksud jeritan itu, mungkin karena mereka hanya memiliki dua telinga. Sementara pagar-pagar itu berbicara untuk telinga-telinga yang tidak mereka miliki. 

Pagi ketika terbangun, ia seperti biasa, suatu rutinas, mendengar jeritan pagar-pagar itu, ia malas bangun hanya memeriksa hari dan mengingat jadwal-jadwal. Besok, tanggal memerah lagi, ia bangun  menuju wastafel memutar keran air dan tanpa memandang pantulan dirinya dalam cermin. Dikepalanya sedang berputar tempat yang akan ia kunjungi besok. Dan ketika jeritan pagar-pagar terdengar lagi, ia tersenyum, besok meski hanya sehari kedua telinganya tak akan mendengar pagar itu yang tak pernah lelah untuk menjerit.     

0 komentar:

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates