Aku mengutak-atik handphone yang sudah setahun ini bersamaku, sebentar-sebentar aku membolak-balik atau menekan tuts-nya.
Sebenarnya, tak ada masalah apa-apa dengan dirinya. Aku hanya menunggu
nada dering, sudah dua hari ini tak berbunyi, meski lewat maghrib tadi
seorang kawan memanggil tapi sungguh bukan bunyi itu yang kuharapkan.
Sebulan
sudah aku menghamburkan diri di tempat ini, saban hari bergulat dengan
waktu yang terus berlari. Aku menunggu dalam gerak yang terus berulang,
pasrah bahwa hal ini akan menjadi ritual meski dengan terus terang
kukatakan "ini membosankan."
Handphone
itu masih juga terdiam tak ada dering sama sekali. Saat-saat seperti
ini imaji-imaji film tentang seseorang membanting atau membuang barang
-benda seperti handphone juga seringkali jadi korban. Aku tak berniat
mengambil cara seperti itu. Kehidupan ini tak perlu didramatisir dalam
histeria yang hanya sesaat. Cukup diri sendiri yang menjadi lawan,
benda-benda tak perlu dilibatkan. Hidup itu perlu pegangan kataku pada
diri sendiri, sabar bahwa semua hal akan kembali pada pemilik-Nya yang
sah.
Dalam
desah yang tak mau keluar hanya satu kalimat yang kuucap dalam
bathinku. Tuhan, diriku sedang gelisah, perih oleh sunyi yang
mengiris-iris.


2 komentar:
hahahaiiii... ini moment2 religiusitas... perlu kesalehan mungkin biar bs mencernax...saya rindu moment ini... cemburu saya, soalx moment ini tak pernah lg menghmpiri... mungkin gr2 sedang trsesat terlalu jauh lalu ksulitn untuk pulang... kalau sj saat ini ia datang, itu karunia dmata saya..... sekali lagi ini moment religiusitas... dan saya lalu dirasuk rindu...hahahahaha....
Iya, lg rindu jalan pulang. Maunya sih setiap waktu dalam keadaan seperti itu. Tapi sampe skrng diri sendiri msh susah ditaklukan...Hari ini dng pesatx teknologi jarak dan waktu bukan lg soal, tp rasanya selalu saja ada yg hambar...jd labil deh akhirx...hehehe...tp kadang labil itu diperlukan, setidakx petanda bahwa kita msh merasa kurang...
Posting Komentar