Sudah hampir sebulan mata saya tak pernah menatap layar itu. Bukannya takut akan apa yang ditampilkannya, hanya saja saya cukup lelah dengan sajiannya yang rumusnya sudah sangat gampang ditebak. Kalau berita, pasti suka yang ribut-ribut makin menarik jika adegan perkelahiannya kelihatan. Kalau sinetron, rumusnya makin sederhana lagi, cukup dengan air mata, lupa ingatan, rebutan warisan hingga rencana menghilangkan nyawa. Itulah sebagian rumus dari tayangan televisi di Indonesia. Di pertengahan 80-an, di lingkungan tempat tinggal saya semasa kecil, TV adalah benda menakjubkan yang hanya dimiliki oleh seorang warga. Setiap malam orang-orang berbondong memenuhi rumah warga tersebut. Saking ramainya setiap tempat mulai dari teras hingga ruang tamu yang menyatu bersama ruang keluarga tak tersisa dihimpiti orang-orang. Tak ketinggalan bantal dan sarung plus anti nyamuk bakar juga mereka bawa dari rumah masing-masing. Tayangan-tayangan seperti Aneka Ria Safari, Kamera Ria, kuis Berpacu dalam Melodi, Apresiasi Film Indonesia dan Dunia dalam Berita menjadi idola. Sejak saat itu kampung kami mulai berkenalan dengan imaji-imaji tempat dan orang-orang yang sama sekali belum pernah kami kunjungi.
Di akhir 80-an, saya ikut bapak yang dipindahtugaskan di salah satu ibu kota kabupaten di Sulawesi Tenggara. Saat itu, TV juga masih menjadi tontonan favorit. Di awal tahun 90-an kami sudah dapat mengakses tayangan-tayangan dari TV swasta yang saat itu hadir hanya melalui layar TPI (Televisi Pendidikan Indonesia). Setiap sabtu siang bertepatan dengan jam pelajaran terakhir di kepala kami hanya ada serial Mahabarata dan Ramayana bukan lagi rumus matematika. Dua serial ini menjadi tonotonan yang paling ditunggu-tunggu. Saking lakunya, tak jarang saya dan beberapa teman-teman sampai bolos dari ruang kelas.
Kemudian antena parabola masuk, dunia kami makin luas, imaji tentang luar negeri mulai dari Malaysia hingga Perancis telah kami lihat tanpa mengeluarkan duit atau melewati lautan luas. Cukup dengan menekan tombol remote para peragawati yang berlenggak-lenggok di atas catwalk telah hadir di depan kami. Hingga saat ini, dengan banyaknya jumlah stasiun TV di Indonesia ditambah hadirnya TV kabel dan TV satelit, kita tak sanggup lagi mengikuti semua tayangan yang disajikan oleh mereka.
Saking lamanya kita hidup bersama TV, kehadirannya bukan lagi hal yang baru. Cobalah tengok, di ruang mana benda tersebut diletakkan di dalam rumah. Jika ia di ruang keluarga, saat itu ia merupakan bagian dari anggota keluarga, jika ia di kamar tidur saat itu ia layaknya pakaian yang membungkus bagian tubuh kita. Saking pribadinya ia kita perlakukan ibarat daerah-daerah tertentu dari tubuh kita.** Sangat berbeda dengan kondisi di tahun 80-an yang hanya dimiliki oleh segelintir orang tetapi diakses oleh orang banyak. Kini di beberapa rumah, TV dimiliki lebih dari satu unit tetapi makin membatasi akses terhadapnya, tergantung di ruang mana ia ditempatkan.
Lepas dari ruang pribadi TV juga merambah ruang-ruang publik. Kita dapat mendapati kotak tersebut di ruang tunggu terminal hingga rumah sakit. Hal ini sebagai penanda, bahwa apa yang disajikan oleh benda tersebut menjadi hal yang dinyatakan penting untuk disimak. Entah sebagai hiburan, pendidikan atau pun hal-hal yang dianggap penting lainnya. Meski demikian, di tingkatan penonton hal ini tidaklah sesederhana itu.
Seringkali saat berkumpul di rumah saudara, saya kerap menyaksikan pengalaman mereka saat dihadapan TV utamanya jam-jam prime time di malam hari. Sinetron menjadi pilihan tontonan favorit mereka. Ternyata rumus-rumus sinetron juga sangat mereka kuasai. Keponakan perempuan saya mengatakan, “tokoh yang lupa ingatan pasti selalu hadir di sinetron-sinetron.” Rumus ini tidak hadir begitu saja di kepala mereka, melainkan hasil dari pengamatan dan kerapnya mereka menonton sinetron dengan beragam judul. Mereka memperlakukan rumus ini sebagai olok-olok bahwa TV sudah hilang kejutan.
Seiring dengan lekatnya kehidupan kita dengan TV perhatian kita pun terhadapnya hanya sambil lalu, seperti orang-orang yang kita jumpai di jalan. Komunikasi yang tercipta hanyalah komunikasi phatic. Sebahagian dari kita menekan tombol on hanya karena persoalan kita tidak lagi terbiasa dengan keheningan. Layaknya sapaan hai kepada seorang kawan hanya karena perasaan kita tak enak saja jika tak menegurnya. Telinga mereka juga tetap terbuka tapi tak memperhatikannya secara penuh. Hal demikian kerap saya jumpai bersama keluarga. Mereka menonton tetapi tetap bercerita mengenai apa yang mereka lewati siang tadi tanpa acuh seratus persen dengan suara atau imaji yang bergerak di layar TV itu.
Suatu ketika saya memperhatikan keponakan saya mengucapkan nama Mbah Surip ketika melihat citra almarhum di salah satu acara televisi. Ia bergoyang ria sambil menyanyikan sepotong lirik populer dari mbah surip, “ta gendong kemana-mana.” Awalnya saya mengira betapa kuat pengaruh TV tetapi kemudian saya melihatnya dengan cara lain. Keponakan saya bersama nyanyian dan goyangannya tengah bermain bukan dalam keadaan tersihir. Ia melihat citra mbah Surip seperti nenek di depan rumah yang juga kerap menyanyi bersamanya. Setelah puas bergoyang sebentar, keponakan saya akan berlalu meninggalkan layar itu sambil berlari kecil menuju kesenangan yang lain. Televisi baginya juga bukanlah hal baru, bahkan usia benda itu jauh lebih tua dari dirinya. Saya tersenyum melihat tingkahnya di depan TV yang tak membuat ia terheran-heran seperti imaji tentang orang-orang yang melihat alien mendarat di bumi. Iya, karena televisi seperti kata mbah Surip “ta gendong kemana-mana.”
Catatan
* Saat menyebut TV, saya membahasakannya selain sebagai sebuah benda juga sebagai media dimana pesan-pesan dikonstruksi sedemikian rupa, juga dapat dimaknai setiap tayangan yang dihadirkan untuk ditonton.
** Beberapa tahun lalu dengan perkembangan teknologi, TV sudah dikonvergensi bersama handphone. Kini benda itu sudah dapat dikantongi dalam saku celana kita.
Gambar diambil dari http://rujakuleg.blogspot.com
Makassar, 17 nopember 2009 pukul 9:31 pm

0 komentar:
Posting Komentar