Namanya Iqbal, ia masih duduk di kelas lima sekolah dasar, itu dulu waktu pertama kali kami bertemu. Saya mengenalnya di pintu 2, di atas trotoar depan warung sarabba tempat rekreasi kami saat malam. Saat itu bulan ramadhan di tahun 2006, dan sejak saat itu jika bertemu, ia dan beberapa temannya akan menyapaku dan saya pun demikan. Di antara teman-temannya yang lain saya paling hapal namanya yang selalu mengingatkan akan filsuf muslim asal Pakistan, Muhammad Iqbal.
Hampir setiap singgah di pintu dua, saya bertemu dengannya dan ia selalu datang menghampiri. Kadang saya bertanya tentang kabarnya di sekolah, tentang pelajaran apa yang dia suka dan satu hal yang saya ingat, ia berkata ingin sekali bisa membaca Al Qur'an. Sekali lagi ia membawaku pada bayang-bayang filsuf muslim itu dan Iqbal setelah beberapa bulan menemaniku di pintu dua tak pernah lagi kutemui. Hingga bertahun-tahun kemudian saya hanya mendengar sedikit cerita tentangnya, bahwa ia masih hidup dan tetap tinggal dialamatnya yang dulu.
Beberapa bulan kemarin, di depan Makassar Town Centre, saya bertemu salah satu kawannya dan menanyakan kabar keberadaan Iqbal. Lalu kawannya itu berkata, "lamami Iqbal berhenti, kaya-mi sekarang." Terang saya penasaran dengan jawaban itu, "kenapa bisa kaya," saya mulai menginterogasi dan ia pun dengan antusias seperti yang kuharapkan berkata, "adami HP-nya sekarang, tigami motornya, dia sewakan juga untuk tukang ojek." Dan dengan segera naluri detektif gadunganku buyar, bukan karena sedang mengambil jam kerjanya, lebih karena soal jawaban itu membungkam tanyaku yang memancing imajinasi tentang kisah-kisah yang selama ini masih menyelimuti ingatan tentang kejadian-kejadian serupa.
Salah satu kisah tersebut tentang penelitian yang pernah dilakukan mengenai kehidupan kelas mereka, sampai-sampai memunculkan bahasa baru untuk menandai mereka. "Para gepeng itu," kata kawan saya waktu itu, "banyak yang pandai berakting," sambungnya penuh semangat. "Kalau kerumahnya kita akan menemukan motor yang diparkir, televisi hingga kulkas." Saya cuma mengingat dengan jelas kata-kata ini. Cerita lainnya, hampir senada, "suatu saat saya bertemu salah seorang mereka sedang diantar memakai motor oleh seorang pria, mungkin itu bapaknya," demikian kata kawan saya yang lain pada suatu siang yang terik. "Ia tampak bersih, hingga kemudian ia mengambil debu dan menggosokkannya diwajahnya."
Saya juga masih ingat kampanye pemerintah tentang larangan memberi duit buat para pengemis. Kebijakan aneh dan menggelikan, begitu pikir saya waktu membaca salah satu spanduk di salah satu perempatan jalan kota ini dari jendela angkot yang kutumpangi. Sepertinya pemerintah lelah dan kebingungan bagaimana mendisiplinkan mereka sehingga kita juga diminta untuk bekerja sama. Kemudian saya juga teringat nada lain dari kata kawan saya, "saya memberi mereka duit untuk melatih keikhlasan, tak peduli apa isi spanduk-spanduk itu."
Ruang Kota dan Dongeng Anak Jalanan
Di tahun 2004, saya masih ingat dengan jelas, di awal bulan november, saya berbincang dengan beberapa anak-anak yang mangkal di perempatan kilo empat. Jalan bagi sebagian dari mereka adalah soal bertahan hidup, salah seorang anak berkata, "saya punya empat orang adik, kami tinggal bersama ibu tiri kami, setiap hari uang yang saya dapatkan saya kasih ke ibu saya." Seorang yang lain berkata, "saya lebih senang di sini dibanding di sekolah, di sini saya bisa bebas bermain setiap saat, sementara di sekolah terlalu banyak larangan, saya pernah di hukum karena terlambat."
Kemunculan anak jalanan tak lepas dari fenomena kota yang sedang tumbuh. Di awal tahun 90'an masih jarang didapati fenomena seperti ini di kota Makassar kecuali pengemis. Seingat saya salah satu titiknya berada di perempatan Masjid Raya. Dipertengahan dekade pertama abad 20, seiring makin meluasnya pembangunan di kota ini, beberapa titik juga bermunculan salah satunya di Tamalanrea, khususnya di pintu dua.
Kini pergeseran menuju Makassar Town Centre - selain MTC di titik ini juga berdiri Carrefour dan beberapa tempat perbelanjaan lainnya- merambat seperti ubi jalar. Tempat-tempat ini tentunya dipilih bukan tanpa suatu alasan. Tempat ini adalah simbol kemewahan dan gaya hidup yang tak semua kelas sosial bisa mengaksesnya kecuali mereka yang juga ingin berada di dalam sana (kelas yang berusaha mengaburkan kelas sosial mereka). Dan anak-anak jalanan yang menghiasi landscape ini sudah memberi isyarat tentang sesuatu yang ironis tengah berlangsung, isyarat yang sesungguhnya tak bisu bahwa mereka adalah benang-benang yang membuat suatu tenunan menjadi kontras, benang-benang yang tak diinginkan oleh spanduk-spanduk itu.
Mereka lahir dari kondisi masyarakat yang timpang, saat keadilan sosial dan ekonomi hanya milik kelas-kelas penguasa modal dan pengambil kebijakan. Anak-anak yang kehilangan dunia mereka, kehilangan kasih sayang rumah dan orang tua mereka, dunia yang direbut paksa oleh kapitalisme industri atau meminjam bahasa J.M. Barrie, never land, dunia dimana Peterpan dan kawan-kawannya hidup tanpa orang tua. Tak heran mereka tak pernah menua tetap hidup dalam dunia kanak-kanak. Dunia yang hanya menjadi imajinasi, begitulah tafsir saya membelokkan kisah Peter Pan.
Bagi saya inilah drama yang sesungguhnya, suatu olok-olok dari kemewahan tragedi di layar-layar sinetron tontonan kita. Dan Iqbal bisa jadi adalah contoh bagaimana olok-olok itu dipraktikkan, terang ia membangun strategi, berakting sedemikian rupa, tampil menawan dan meyakinkan memainkan peran di atas panggung depan, ia paham betul dengan apa yang dikatakan Erving Goffman tentang dramaturgi. Tak hanya itu, mereka juga punya visi bahwa menjadi pengemis bisa mengangkat kelas mereka, dan tentu saja mereka punya manajemen yang betul-betul matang. Mungkin begitulah sikap yang harus diambil dalam dunia sosial yang kadang harus dihadapi dengan kepura-puraan.

0 komentar:
Posting Komentar