Saya ingin berbagi cerita lewat bibir tapi entah dengan siapa. Kawan-kawan sibuk dengan dunianya, sebagian bermain game dan sebagian mengutak-atik gambar dan kata di jejaring sosial. Malam ini si gila mengetuk pintu, berkali-kali, lalu pikiranku kembali menjadi korban.
Dua malam tak nginap di kamar 102, rinduku menghilang. Hanya ingin keluar dari cangkang yang sudah mengecil, tak lagi dapat menampung tubuh yang gelisah, kakiku seolah tanpa kendali selalu menuntut haknya, melangkah dan terus melangkah. Tapi pikiranku lelah dengan lampu merkuri, lelah dengan jalan yang memadat sumpek, lelah dengan pemandangan kota yang terlalu seragam, lelah dengan iramanya seperti lagu di masa kanak-kanak -jalan...jalan....di tengah kota...bosan...bosan sekali...kiri kanan kulihat selalu hanya ruko berjejer.
Saya ingin bercerita tentang kelelahan ini, tentang hidup dalam ruang yang lepas dari kendali.sebagian orang yang hidup didalamnya. Di kamar, kemerdekaan ini mudah kuperoleh khususnya mengutak-ngatik posisi benda. Kadang bayanganku tentang ruko-ruko seperti rumah-rumah keramat dalam film-film horor yang lucu, kosong, megah namun angker terlalu banyak menyita lahan kota yang terus memadat dan membesar sementara penghuninya tak ada.
Kota ini tumbuh, berlari, dipacu dalam sirkuit balap, meninggalkan dan menyingkirkan mereka yang tak mampu.bersaing. Kota ini terus bersolek, seolah di depan panggung ingin tampil menawan sementara ditangannya pisau berlumuran darah.
Tapi kota masih punya keindahan. Meski paradoks, setidaknya bagi penikmat pete-pete seperti saya. Kecil, berjalan dengan empat roda, orang-orang duduk saling berhadapan tapi jarang bertegur sapa. Pete-pete mungkin horor yang lebih menakutkan dibanding film-film tadi. Penuh curiga, penuh keterasingan, dan penuh ketakutan.
(besok baru disambung lagi.... ngantuk ndak bisami di-palece seperti kemarin)

0 komentar:
Posting Komentar