Semalaman aku memikirkan apa yang harus ku beri sebagai hadiah pernikahanmu. Kakakmu ini bukanlah pria "mapan." Apa yang kumiliki hanya beberapa helai kenangan tentangmu. Seperti benang, aku mencoba merajutnya dan menjadikannya kisah bagimu.
Di bulan agustus 2002, menjadi awal perjumpaan kita. Saat hari pertama engkau berkenalan dengan ruang kuliah. Waktu itu engkau terlihat polos, mencoba jujur dengan kata-kata. Dari caramu berbicara, aku yakin engkau dapat "diandalkan" dan dibanggakan dalam "rumah" kita.
Di antara adik-adikku, engkau salah satu yang lapar berdiskusi. Entah berapa banyak malam yang tak sepi dari ocehan-ocehan kita. Aku pasti akan merindukan pertemuan-pertemuan itu.
Tentunya engkau masih mengingat bagaimana rasanya ketika kita mengitari kawasan tabo-tabo. Jalan penuh tanjakan dan berbatu sejauh belasan kilometer kita tempuh hanya dalam 3 jam. Saat itu aku heran teramat sangat, kita bisa sekuat itu. Terutama engkau dengan bertelanjang kaki di atas hamparan batu chrom yang panas dan tajam.
Ada helai ingatan yang selalu membuatku tersenyum. Saat engkau terbaring sakit, seorang kakak kita, membacakan surah Yasin padamu seperti acara takziah. Kami kakak-kakakmu dan kawan-kawanmu yang berada di situ tertawa terbahak-bahak. Tapi saat itu aku yakin, kamu pasti mengerti bahasa cinta dalam rumah kita.
Besok, engkau akan mengakhiri kesendirianmu sebagai lelaki. Seperti katamu di Ramadhan kemarin, "tahun depan saya tak mau lagi sahur dengan kakak." Aku selalu percaya, engkau pantang menarik kata. Satu hal yang kukagumi hingga hari ini.
Aku juga tak punya banyak pesan pernikahan. Jadilah suami yang baik sebagaimana lelaki yang seharusnya. Semoga rumah tanggamu menjadi surga kalian. Selamat berbahagia.
(untuk "abang" Rahmad)

0 komentar:
Posting Komentar